Community Relations

                                                     
Community Relations


  Istilah Community Relations (Hubungan dengan komunitas) dalam Public Relations menurut Moore (2004:415) adalah: “Hubungan antara sekelompok orang yang hidup di tempat sama, pemerintah sama dan mempunyai kebudayaan dan sejarah yang umumnya turun temurun dan mempunyai tujuan yang sama”.
  Sedangkan menurut Yosal (2004:77), Community Relations pada dasarnya adalah kegiatan Public Relations, maka langkah-langkah dalam proses PR pun mewarnai langkah-langkah dalam Community Relations. PR disini lebih dimaknai sebagai kegiatan organisasi dan bukan proses komunikasi yang dilakukan organisasi dengan publiknya. Kalau pun ada sedikit perbedaan dalam pendekatan pelaksanaan kegiatan, lebih disebabkan karena sifat kegiatan yang diselenggarakan dalam Community Relations. Mengingat Community      Relations berhadapan langsung dengan permasalahan sosial yang nyata yang dihadapi komunitas sekitar organisasi. Melalui kegiatan ini, organisasi bersama-sama dengan komunitas sekitarnya berusaha untuk mengidentifikasi, mencari solusi dan melaksanakan rencana tindakan atas permasalahan yang dihadapi. Maka penulis menilai, dengan adanya kegiatan community relations di setiap perusahaan, masalah-masalah sosial yang terus dihadapi akan berangsur membaik sesuai yang diharapkan perusahaan tersebut, tentunya dengan kerjasama yang baik pula dengan masyarakat sekitarnya sehingga citra yang baik pun akan didapatkan perusahaan tersebut. Satu prinsip yang hendak dikembangkan melalui kegiatan ini adalah mengembangkan hubungan bertetangga yang baik.
Perusahaan yang ada akan dipandang oleh tetangganya, yakni masyarakat sekitar perusahaan, seperti miliknya sendiri. Masyarakat sekitar perusahaan mempunyai keinginan untuk turut menjaga dan melindungi perusahaan tersebut, karena manfaat keberadaan perusahaan itu memang dirasakan oleh masyarakat sekitarnya. Menurut Jerold dalam Yosal (2004:20) Community Relations adalah: “program pengembangan komunitas yang melalui berbagai upaya untuk kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas”. Menurut DeMartinis dalam Yosal (2004:20) menjelaskan Community Relations hanya sebagai: “cara berinteraksi dengan berbagai publik yang saling terkait dengan operasi organisasi.”.
Penulis memahami, dengan adanya kegiatan community relations yang dilakukan secara terus menerus maka dengan sendirinya akan menghasilkan kesejahteraan bagi perusahaan dan publik sekitar. Mereka akan saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya. Karena kegiatan Community Relations juga merupakan wujud dari kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan. Definisi tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) menurut lembaga internasional The Word Business Council for Sustainable Development (WBCSD) dalam Wibisono (2007:7) adalah: “Continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community and society at large”. Atau dalam Bahasa Indonesia adalah: “Komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara luas”.
Penulis memahami, hal yang mendasar dalam konsep tanggung jawab sosial perusahaan adalah untuk peningkatan ekonomi, peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara luas. Dengan demikian perusahaan akan mendapat dukungan penuh dan keberadaannya akan diakui oleh komunitas lokal perusahaan tersebut. Setelah perusahaan memperoleh dukungan publisitas dari masyarakat khususnya, peran dan fungsi Public Relations tidak berhenti sampai disini saja. Namun, diperlukan pembinaan hubungan yang berkesinambungan dengan masyarakat. Public Relations harus mampu menyajikan informasi tentang kegiatan community relations secara jelas sehingga dapat diterima dan dimengerti oleh semua pihak dan dapat terus membina hubungan baik dengan masyarakat sekitar perusahaan. Menurut Moore (2002:19) Berbagai cara untuk mendukung kegiatan community relations bisa dengan memulai berbagai kegiatan yang membentuk relasi baik dengan lingkungan masyarakat, antara lain :

  1. Menggali, membentuk dan membuat sesuatu yang dibutuhkan
  2. Menghilangkan sesuatu yang membuat masalah.
  3. Memperkenalkan arti kemandirian.
  4. Memanfaatkan secara lebih optimal atas apa yang telah dimiliki dan melibatkan masyarakat tak mampu.
  5. Berbagi peralatan, fasilitas dan keahlian professional.
  6. Memberi pengajaran, konsultasi dan pelatihan.
  7. Membentuk, memperbaiki dan meningkatkan masyarakat.
  8. Mempromosikan masyarakat sekitar keluar lingkungan organisasi.
  9. Menggerakkan dan mengaktifkan masyarakat, dan sebagainya.
  10. Memberikan informasi kepada komunitas mengenai kebijaksanaan, kegiatan dan masalah organisasi atau perusahaan. Misalnya informasi mengenai jumlah pekerja, besar upah, pembiayaan pajak, berapa besar untuk komunitas, tanggung jawab organisasi atau perusahaan terhadap komunitas, serta sumbangan bagi komunitas.
  11. Memberikan penjelasan atau jawaban terhadap pertanyaan atau tanggapan negatif bagi masyarakat sekitar perusahaan.
  12. Memberikan bantuan kepada lingkungan melalui organisasi atau perusahaan setempat.
  13. Bekerjasama dengan sekolah dan perguruan tinggi dengan menyediakan bahan-bahan pendidikan serta sasaran dan fasilitasnya.
  14. Mendukung program-program kesehatan
  15. Mendukung kegiatan olah raga, budaya dan kreasi
  16. Berorientasi pada kebutuhan baik material maupun nonmaterial
  17. Memanfaatkan kesejatian (endogenous) masyarakat setempat termasuk visi dan misinya tentang masa depan
  18. Mandiri yang berarti mendasarkan pada kekuatan dan sumber daya yang dimilikinya
  19. Bersifat ekologis yang memanfaatkan sumber daya secara rasional dan penuh kesadaran
  20. Didasarkan pada transformasi struktural yang berarti adanya perubahan dalam relasi sosial, kegiatan ekonomi dan struktur kekuasaan
  21. Globalisasi sebagai akibat dari ekspansi bisnis yang mendunia, usaha swasta dan ekonomi pasar.
  22. Peningkatan harapan konsumen khususnya dan masyarakat pada umumnya yang menginginkan dunia bisnis bisa dan seharusnya memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sebelumnya ditangani pemerintah.
  23. Menguatnya masyarakat madani dan sektor LSM yang makin berdaya karena teknologi informasi dan mendapatkan kepercayaan publik.
  24. Pengaruh meningkatnya gerakan lingkungan yang menekankan pada transparansi, keberlanjutan, akuntabilitas serta pelaporan yang berdasarkan transparansi, akuntabilitas dan berkelanjutan.
  25. Pasar dan tenaga kerja berbakat yang bergerak menuju pemberian hukuman bagi perusahaan-perusahaan yang mengabaikan masalah kemasyarakatan dan menghargai perusahaan-perusahaan yang makin hari makin banyak yang berusaha menjawab tantangan perubahan tersebut.
  26. Reputasi dan citra organisasi yang lebih baik.
  27. Lisensi untuk beroperasi secara sosial.
  28. Memanfaatkan pengetahuan dan tenaga kerja local.
  29. Keamanan yang lebih besar.
  30. Infrastruktur dan lingkungan sosioekonomi yang lebih baik.
  31. Menarik dan menjaga personel berkaliber yang tinggi untuk memiliki komiten yang tinggi.
  32. Menarik tenaga kerja, pemasok, pemberi jasa dan mungkin pelanggan local yang bermutu.


Penulis memahami, dalam pelaksanaan kegiatan community relations, komunitas dipandang sebagai satu kesatuan dengan perusahaan yang memberikan manfaat timbal balik. Dan hubungan timbal balik itu bukanlah selalu berarti bahwa komunitas adalah kumpulan orang yang saling berbagi dalam memanfaatkan suatu fasilitas saja. Namun, komunitas adalah masyarakat sekitar perusahaan yang saling berinteraksi dan saling mendukung akan jalannya kegiatan community relations. disamping itu, dibutuhkan juga cara untuk mendukung kegiatan community relations agar kegiatan tersebut dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan yaitu dengan membentuk dan membuat sesuatu yang dibutuhkan, menghilangkan sesuatu yang membuat masalah, memperkenalkan arti kemandirian, memanfaatkan secara lebih optimal atas apa yang telah dimiliki dan melibatkan masyarakat tak mampu, berbagi peralatan, fasilitas dan keahlian professional, memberi pengajaran, konsultasi dan pelatihan, membentuk, memperbaiki dan meningkatkan masyarakat, mempromosikan masyarakat sekitar keluar lingkungan organisasi, menggerakkan dan mengaktifkan masyarakat, dan sebagainya. Menurut Moore (2004:418) tujuan dari program Community Relations secara umum adalah :
Penulis memahami, tujuan dari program Community Relations sangat dipengaruhi oleh besarnya komunitas dan kebutuhannya, seperti sumber penghasilan dan sasaran hubungan masyarakat. Adapun yang mendukung program-program hubungan komunitas adalah organisasi atau perusahaan itu sendiri. Sedangkan tujuan dari program Community Relations secara umum adalah memberikan informasi kepada komunitas mengenai kebijaksanaan, kegiatan dan masalah organisasi atau perusahaan, memberikan penjelasan atau jawaban terhadap pertanyaan atau tanggapan negatif bagi masyarakat sekitar perusahaan, memberikan bantuan kepada lingkungan melalui organisasi atau perusahaan setempat, bekerjasama dengan sekolah dan perguruan tinggi dengan menyediakan baha-bahan pendidikan serta sasaran dan fasilitasnya, mendukung program-program kesehatan, mendukung kegiatan olah raga, budaya dan kreasi. Pelaksanaan kegiatan Community Relations bagi suatu organisasi atau perusahan, bisa dijadikan suatu strategi untuk meningkatkan citra yang positif dari suatu organisasi atau perusahaan terhadap masyarakat sekitar perusahaan.
Menurut penulis manfaat Community Relations yang dibangun berdasarkan visi tanggung jawab sosial korporat itu memang bisa dipetik kedua belah pihak. Ini sejalan dengan prinsip kesejahteraan bersama yang dikembangkan melalui berbagai program dan kegiatan PR. Karena itu penting untuk disadari bahwa program-program Community Relations bukanlah program dari perusahaan untuk komunitas melainkan program untuk perusahaan dan komunitas. Menurut Yosal (2004:21), bentuk lain dari program atau kegiatan Community Relations yang dilakukan organisasi bisnis adalah pengembangan masyarakat (community development). Pengembangan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya pemberdayaan masyarakat melalui kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat itu. dalam pengembangan masyarakat ini, masyarakat adalah partisipan sekaligus pemetik manfaat (beneficiaries) dari pembangunan.
Pengembangan masyarakat adakalanya dipandang sebagai kebalikan dari pendekatan pembangunan yang top-down, yang segalanya ditentukan dari luar komunitas tersebut. Metode yang biasanya digunakan untuk pengembangan masyarakat ini adalah PRA (Participatory Rural Appraisal) yang merupakan cara untuk mengkaji atau memahami kondisi atau keadaan desa dengan melibatkaan partisipasi masyarakat. Dalam pendekatan pengembangan masyarakat, yang biasanya membentuk organisasi-organisasi masyarakat, memiliki komponen:
Karena itu menurut penulis, dalam prosesnya, PRA ini melibatkan masyarakat dalam proses-proses pemikiran yang berlangsung selama kegiatan perencanaan dan pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi program kegiatan community relations. Demi kelancaran kegiatan community relations ini maka PRA juga sebagai pendekatan dan metode yang mendorong masyarakat sekitar perusahaan, dalam hal ini masyarakat desa Kragilan Serang Banten untuk turut serta meningkatkan dan menyadari pengetahuan mereka mengenai hidup dan kondisi mereka sendiri agar mereka membuat rencana dan tindakan serta merasakan manfaat yang besar dari kegiatan community relations yang dilakukan PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Serang Banten.
Penulis menambahkan, manfaat community relations tersebut seiringnya waktu akan semakin dirasakan masyarakat sekitar perusahaan, diantaranya yaitu perusahaan dapat menjalin kerjasama yang baik dengan masyarakat sekitar perusahaan, masyarakat sekitar perusahaan akan selalu mendapatkan program bea siswa dari perusahaan tersebut, perusahaan memberikan perubahan yang berati bagi masyarakat sekitar untuk mendapatkan penghidupan yang layak, dengan adanya kegiatan community relations perusahaan turut membantu memperbaiki mutu hidup bagi masyarakat sekitar, terciptanya kesejahteraan bersama antara masyarakat dan perusahaan, masyarakat merasa dihargai, diakui dan diperhatikan selaku makhluk sosial yang ada di sekitar perusahaan, community relations dilakukan sebagai wujud saling mengormati antar individu atau antar perusahaan dengan masyarakat sekitar dan dengan adanya kegiatan ini masyarakat dapat memanfaatkan pengetahuan tentang arti penting kegiatan community relations serta masyarakat mempunyai kesempatan untuk menjadi tenaga kerja lokal di perusahaan tersebut.
Hubungan Organisasi dengan Komunitas


Menurut Jefkins (1987:126) komunitas sekitar lokasi kegiatan organisasi seperti pabrik atau kantor diibaratkan sebagai tetangga. Bila diperlakukan dengan baik maka akan menjadi kawan, dan bila diperlakukan buruk bisa menjadi lawan. “ Politik bertetangga baik ” tentu menjadi solusi agar tetangga organisasi itu tetap menjadi kawan. Hanya masalahnya, konsep tetangga yang baik itu tentu berbeda dalam pandangan organisasi dan komunitas. Bagi organisasi, sifat caritatif (amal) dengan memberikan bantuan mungkin dipandang memadai untuk membangun hubungan bertetangga yang baik. Namun bagi komunitas, tentu bukan sekedar itu. bertetangga baik itu bisa juga dalam bentuk memberi prioritas bagi warga sekitar untuk bekerja di organisasi. Maka penulis memahami, hubungan antara organisasi dan komunitas bukanlah sekedar soal bertetangga belaka. Bila komunitas dimaknai dengan lokalitas, bisa berarti menjaga hubungan baik dengan tetangga. Dimana konsep komunitas itu sudah mengalami pergeseran sehingga komunitas tidak hanya dimaknai dengan lokalitas belaka melainkan juga dimaknai secara struktural, artinya dilihat dari aspek interaksi yang pada saat ini berlangsung diantara individu yang berbeda lokasinya atau masyarakat secara keseluruhan.Karena itu, hubungan antara organisasi dan komunitas lebih tepat dipandang sebagai wujud tanggung jawab sosial organisasi. Uraian lebih rinci dibuat Waddock dan Boyle (1995:23) dalam Yosal (2004:27), yang menunjukan dinamika perubahan hubungan antara organisasi, khususnya organisasi bisnis dan komunitas. Keduanya melihat ada pergeseran yang mengarah untuk memposisikan organisasi bisnis bukan semata sebagai institusi sosial. Bahkan, dalam diri organisasi bisnis sebagai institusi ekonomi pun, di dalamnya ada dimensi tanggung jawab sosial yang mesti dipikul organisasi bisnis.
Menurut penulis apa yang diungkapkan di atas menunjukan bahwa hubungan PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten dan masyarakat sekitar perusahaan secara keseluruhan berada pada kondisi yang dinamis. Hubungan tersebut tidak hanya pada posisi yang sama, melainkan berubah sejalan dengan perubahan pada lingkungan sosial organisasi tersebut. Maka, PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten dipandang bertanggung jawab terhadap berbagai persoalan sosial yang muncul dan seringkali masyarakat sekitar perusahaan mengeluhkan adanya hal itu. Seperti soal lingkungan hidup yang dampaknya dipikul oleh masyarakat. Contohnya masalah pencemaran lingkungan atau limbah yang timbul akibat dari aktfitas perusahaan tersebut. Masih menurut Yosal (2004:27), persoalan sosial yang muncul itu, pasti akan menjadi beban, termasuk beban ekonomis masyarakat padahal sumber masalah itu adalah di akibatkan oleh operasi yang dijalankan satu organisasi bisnis. Masyarakat sekitar yang tak mendapatkan keuntungan komersial harus memikul beban kerugian. Penulis memahami, dari persoalan lingkungan hidup yang timbul tersebut dan dalam perkembangan berikutnya, masyarakat menuntut sebagian keuntungan yang diperoleh PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten dikembalikan pada masyarakat dalam berbagai bentuk kegiatan yang diwadahi dalam program-program Community Relations. Menurut penulis, perkembangan konsep tanggung jawab sosial yang dipaparkan tadi menunjukan bahwa adanya upaya, baik dari PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten maupun dari masyarakat sekitar untuk sama-sama menjalankan kegiatan yang memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi kedua belah pihak. PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten menyisihkan sebagian labanya bahkan sering pula dengan meminta para karyawan untuk menyisihkan sebagian kecil gajinya untuk keperluan pemberian bantuan dalam kegiatan community relations. Warga masyarakat pun merumuskan apa kegiatan yang dapat dilakukan untuk kesejahteraan dengan bantuan baik dana maupun keahlian yang berasal dari organisasi bisnis tersebut. Godeke dalam Yosal (2004:28) menyebutkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan hubungan antara organisasi dan komunitasnya. Seraya menyatakan bahwa konsep-konsep Community Relations tradisional filantropi perusahaan tak lagi bisa mencakup kegiatan operasi saat ini yang dilakukan berbagai perusahaan di seluruh dunia, Godeke menyatakan faktor-faktor tersebut adalah :
Dari uraian di atas penulis memahami, bahwa hubungan sebuah perusahaan dengan masyarakat sekitar pasti akan mengalami perubahan karena disebabkan oleh beberapa faktor di atas. Namun demikian, setiap perusahaan selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi masyarakat sekitarnya agar hubungan itu tetap selaras dan harmonis. Dalam hal ini PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten dan masyarakat Kragilan Serang Banten. Perkembangan konsep tanggung jawab sosial dan Community Relations tersebut juga menunjukan adanya upaya untuk saling mendekati antara masyarakat Kragilan Serang Banten dengan PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten. Mereka saling menjalin komunikasi satu sama lain untuk memecahkan permasalahan bersama. Karena itu kegiatan Community Relations difokuskan untuk menanamkan kebanggaan karyawan, membangun kepercayaan publik, menumbuh kembangkan pendidikan, memberi respons terhadap kebutuhan masyarakat Kragilan Serang Banten dan meningkatkan citra PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten. Penulis memahami, semua langkah program Community Relations yang dilakukan PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten didasarkan pada nilai-nilai dasar perusahaan yakni menghormati individu, keterpercayaan, kredibilitas dan perbaikan berkelanjutan, serta nama baik perusahaan tersebut.

Citra

Citra Menurut Ruslan (1994:66) pengertian citra itu sendiri abstrak atau intangible, tetapi wujudnya bisa dirasakan dari penilaian, baik semacam tanda respek dan rasa hormat, dari publik sekelilingnya atau masyarakat luas terhadap perusahaan dilihat sebagai sebuah badan usaha atau personelnya yang baik, dipercaya, profesioanal dan dapat diandalkan dalam pemberian pelayanan yang baik. Penulis memahami citra dapat terbentuk dengan berbagai cara yang bisa membuat masyarakat memberikan penilaian. Maka dari itu untuk mendapatkan citra yang positif perlu adanya kegiatan yang positif dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Sehingga terwujud pula rasa hormat atau respek dari masyarakat untuk perusahaan. Menurut Davis (2003:12) citra adalah : “Hasil gabungan dari semua kesan yang didapat, baik itu dengan cara melihat nama, mengamati perilaku, mendengar atau membaca suatu aktifitas atau melalui bukti material lainnya”.
 Penulis memahami citra merupakan suatu cara pandang seseorang terhadap sebuah perusahaan melalui aktifitas yang dilakukan, dalam hal ini kegiatan community relations yang dilakukan PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Serang Banten, sehingga dapat berpengaruh pada penilaian baik dan buruk. Menurut Frank Jefkins (2003:20), ada beberapa jenis citra (image). Yakni ada lima citra yang akan dijelaskan secara rinci. Salah satu diantaranya adalah : citra bayangan (mirror image), citra yang berlaku (current image), citra yang diharapkan (wish image), serta citra majemuk (multiple image). citra perusahaan (corporate iamge).
Citra bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pandangan luar terhadap oraganisasinya. Citra ini seringkali tidaklah tepat, bahkan hanya sekedar ilusi, sebagai akibat tidak ada memadainya informasi, pengetahuan atau pemahaman yang dimilki oleh kalangan dalam organisasi itu mengenai diri sendiri sehingga kita pun percaya bahwa orang-orang lain juga memilki pandangan yang tidak kalah hebatnya dengan diri kita. Citra yang berlaku merupakan kebalikan dari citra bayangan, citra yang berlaku adalah suatu citra atau pandangan yang melekat pada pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi. Citra yang diharapkan adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen. Citra ini juga tidak sama dengan citra yang sebenarnya. Bisanya citra yang diharapkan lebih baik atau lebih menyenangkan daripada citra yang ada, walaupun dalam keadaan tertentu, citra yang terlalu baik juga bisa merepotkan. Namun secara umum, yang disebut sebagai citra harapan itu memang sesuatu yang berkonotasi lebih baik. Sedangkan apa yang dimaksud dengan citra perusahaan (ada pula yang menyebut sebagai citra lembaga) adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan citra atas produk dan pelayanannya. Citra perusahaan ini terbentuk oleh banyak hal. Hal-hal positif yang dapat meningkatkan citra suatu perusahaan antara lain adalah sejarah atau riwayat hidup perusahaan yang gemilang, keberhasilan-keberhasilan di bidang keuangan yang pernah diraihnya, keberhasilan ekspor, hubungan industri yang baik, reputasi sebagai pencipta lapangan kerja dalam jumlah besar, kesediaan turut memikul tanggung jawab, komitmen mengadakan riset, dan sebagainya. Suatu citra perusahaan yang positif jelas menunjang usaha humas keuangan. Sebagai contoh, suatu badan usaha yang memilki citra perusahan positif pasti lebih mudah menjual sahamnya.
Jadi penulis memahami, untuk mendapatkan citra yang positif dimata masyarakatnya, dalam hal ini citra perusahaan, maka perusahaan harus mampu meraih hal-hal yang positif pula. Begitu juga dengan PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten yang melakukan kegiatan community relations secara terus menerus tersebut akan melihat apakah kegiatan ini dapat dirasakan manfaatnya atau tidak oleh masyarakat sekitar perusahaan. Namun, faktor-faktor lain juga mendukung terciptanya citra yang positif, yakni sejarah atau riwayat hidup perusahaan yang gemilang, keberhasilan ekspor, hubungan industri yang baik, reputasi sebagai pencipta lapangan kerja dalam jumlah besar, dan sebagainya. Semua ini tidak lain bertujuan untuk meraih citra yang positif dan mendapat dukungan yang penuh dari masyarakat sekitar perusahaan, dalam hal ini masyarakat Kragilan Serang Banten. Citra perusahaan yang positif sangat dibutuhkan oleh setiap perusahan untuk tujuan tertentu. Penulis menilai, PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten telah berusaha secara terus menerus melakukan tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan citra positif dimata masyarakat sekitar perusahaan tersebut. Salah satu diantaranya yaitu PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten selama ini mampu memikul tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat sekitar perusahaan, PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Serang Banten memberi reputasi positif sebagai pencipta lapangan kerja dalam jumlah besar, perusahaan yang mampu memberikan bantuan baik yang berupa fisik/fasilitas maupun bersifat moral dan mampu menjalin hubungan industri yang baik dengan perusahaan-perusahaan lain serta mampu menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar perusahaan.

Hubungan manfaat Community Relations dengan Citra Perusahaan

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa kegiatan apa saja yang dilakukan sebuah perusahaan karena semata untuk mendapat dukungan yang penuh akan keberadaan perusahaan tersebut dan tidak lain untuk mendapatkan citra yang positif dimata masyarakat sekitar perusahaan. Namun demikian lancarnya sebuah kegiatan perusahaan semata-mata atas kerjasama yang baik antara perusahaan dan pihak-pihak tertentu. Menurut Wheelen dan Hunger dalam Yosal (2004:7), pihak adalah: Kelompok-kelompok yang berkepentingan dengan aktivitas organisasi, dan lantaran berkepentingan maka kelompok-kelompok tersebut mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan perusahaan. Adapun menurut Rhenald Kasali (1994:63 para pihak adalah: “Setiap kelompok yang berada di dalam maupun di luar perusahaan yang mempunyai peran dalam menentukan keberhasilan perusahaan”.
Dengan demikian, publik bisa dinyatakan sebagai pihak-pihak yang memiliki kepentingan langsung atau tidak langsung terhadap satu organisasi. Diantara organisasi dan publik terjadi hubungan saling mempengaruhi, sehingga terjadi perubahan pada pihak lain. Perubahan selera publik misalnya akan mengubah jenis produk yang dihasilkan satu organisasi. Dari uraian di atas penulis memahami jika kegiatan community relations dapat dilakukan dengan baik dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar perusahaan, maka dukungan publikpun akan semakin besar dan tujuan perusahaan tersebut akan tercapai sesuai apa yang diharapkan yaitu perusahaan akan mendapatkan citra yang positif dimata masyarakat. Satu prinsip mendasar yang hendak dikembangkan melalui kegiatan ini adalah mengembangkan hubungan bertetangga yang baik karena jika kita saling berbuat baik dengan tetangga maka timbul rasa ingin saling menjaga pada perusahaan tersebut. Menurut Jerold dalam Yosal (2004:20) mendefinisikan Community Relations sebagai “program pengembangan komunitas yang melalui berbagai upaya untuk kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas”.. Sedangkan menurut DeMartinis dalam Yosal (2004:20) menjelaskan Community Relations hanya sebagai “ cara berinteraksi dengan berbagai publik yang saling terkait dengan operasi organisasi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 Skripsi Mahasiswa ilmu komunikasi Stisipol Candradimuka dengan Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif Periode Tahun 2015-2020,Keren menurut SRI NADIA

Pembukaan S2 Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka

Personal Branding (Mem -PR-kan Diri Sendiri)